Nama/NIM/Kelas : Asmi Riza Hidayati/ 156006/ 2015-A
KONVERSI, AKRONIMISASI dan PENYERAPAN
Selain proses afiksasi, reduplikasi dan komposisi, masih ada proses lain dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Proses tersebut adalah konversi, akronimisasi dan penyerapan. Ketiga proses ini bukanlah sebuah mekanisme gramatikal karena prosesnya tidak mudah dikaidahkan dan produktivitasnya juga sangat rendah (Chaer, 2008:235).
1. Konversi
Konversi disebut juga derivasi zero, transmutasi atau transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah dasar berkategori tertentu menjadi kata berkategori lain, tanpa mengubah bentuk fisik dari dasar itu (Chaer, 2008:235). Contoh:
1.) Petani membawa cangkul ke sawah.
2.) Cangkul dulu tanah itu, baru ditanami.
Dari kedua contoh di atas dapat dijelaskan bahwa, pada kalimat (1) kata cangkul berkategori nomina. Sedangkan pada kalimat (2) kata cangkul berkategori verba. Sebuah nomina tanpa perubahan fisik dapat berubah menjadi verba, walaupun dalam kalimat yang berbeda. Penyebabnya adalah kata cangkul dan sejumlah kata lainnya di samping memiliki komponen makan (+ bendaan) juga memiliki komponen makna (+ alat) dan (+ tindakan) (Chaer, 2008:235-236). Jumlah kosa kata nomina yang memiliki komponen makna (+ tindakan) antara lain: kunci, kupas, sikat, pancing, kikir dan serut.
Di dalam berbagai buku pelajaran dan buku tata bahasa kata-kata nama warna digolongkan berkategori ajektifa. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata-kata warna seperti merah, hijau dan kuning mempunyai dua kategori yaitu ajektifa dan nomina. Karena secara empiris warna-warna itu dapat diamati. Hal ini yang menjadi indikator bahwa warna-warna itu berkategori nomina (Chaer, 2008:236).
2. Akronimisasi
akronimisasi adalah proses pembentukan sebuah kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang direalisasikan dalam sebuah konstruksi lebih dari sebuah kata. Proses ini menghasilkan sebuah kata yang disebut akronim. Akronim juga adalah sebuah singkatan, namun yang diperlukan sebagai sebuah kata atau sebuah butir leksikal (Chaer, 2008:236-237). Contoh:
- Pilkada : pemilihan kepala daerah
- Jabotabek : Jakarta Bogor, Tangerang dan Bekasi
Aturan atau kaidah pembentukan akronim (Chaer, 2008:237-239), antara lain:
1.) Pengambilan huruf pertama dari kata yang membentuk konsep itu. Contoh:
- IKIP : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
- ABRI : Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
- IDI : Ikatan Dokter Indonesia
2.) Pengambilan suku kata pertama dari semua kata yang membentuk konsep itu. Contoh:
- balita : bawah lima tahun
- moge : motor gede
- pujasera : pusat jajanan serba ada
3.) Pengambilan suku kata pertama ditambah dengan huruf pertama dari suku kata kedua dari setiap kata yang membentuk konsep itu. Contoh:
- warteg : warung tegal
- depkes : departemen kesehatan
- puspen : pusat penerbangan
4.) Pengambilan suku kata yang dominan dari setiap kata yang membentuk konsep itu. Contoh:
- tilang : bukti pelanggaran
- danton : komandan peleton
- gakin : keluarga miskin
5.) Pengambilan suku kata tertentu disertai dengan modifikasi yang tidak beraturan, namun masih memperhatikan keindahan bunyi. Contoh:
- organda : organisasi angkutan darat
- kloter : kelompokterbang
- bulog : badan urusan logistik
6.) Pengambilan unsur-unsur kata yang mewadahi konsep itu, tetapi sukar disebutkan keteraturannya termasuk seni. Contoh:
- sinetron : sinema elektronik
- satpam : satuan pengamanan
- kalapas : kepala lembaga pemasyarakatan
3. Penyerapan
Penyerapan adalah proses pengambilan kosa kata dari bahasa asing, baik bahasa Eropa (seperti bahasa Belanda, Inggris, Portugis dsb.), maupun bahasa Asia (seperti bahasa Arab, Parsi, Sansekerta, Cina dsb.). Termasuk juga dari bahasa Nusantara (seperti bahasa Jawa, Sunda, Minang, Bali dsb.) (Chaer, 2008: 239).
Dalam sejarahnya kosa kata asing berlangsung secara audial, artinya melalui pendengaran. Orang asing mengucapkan kosakata asing, lalu orang Indonesia menirukannya sesuai apa yang didengarnya. Karena sistem fonologi bahasa asing itu berbeda dengan sistem fonologi bahasa yang dimiliki orang Indonesia, maka bunyi ujaran bahasa asing ditiru menurut kemampuan lidah melafalkannya. Contoh:
- kata bahasa Belanda domme krach dilafalkan dongkrak.
- kata bahasa Sansekerta utpatti dilafalkan upeti.
- kata bahasa Arab mudharat dilafalkan melarat.
Sejak terbitnya buku Pedoman Pembentukan Istilah dan buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, penyerapan kata-kata asing harus dilakukan secara visual. Artinya, berdasarkan apa yang dilihat di dalam tulisan. Inti dari pedoman pembentuka istilah itu adalah (Chaer, 2008:240):
1.) Kata-kata yang sudah terserap dan lazim digunakan sebelum buku pedoman itu terbit, tidak perlu lagi diubah ejaannya. Contoh: kabar, iklan dan bengkel.
2.) Penyerapan dilakukan secara utuh. Contoh: standardisasi, efektivitas dan objektifitas.
3.) Huruf-huruf asing pada awal kata harus disesuaikan sebagai berikut (Chaer, 2008:240-244):
No
|
Huruf Asing Pada Awal Kata
|
Kata Asing
|
Penyerapan
|
1.
|
Au tetap au
|
audiogram
|
audiogram
|
2.
|
E di muka a, u, o dan konsonan menjadi k
|
contruction
|
kontruksi
|
3.
|
C di muka e, l, oe dan y menjadi s
|
circulation
|
sirkulasi
|
4.
|
Cc di muka o, u dan konsonan menjadi k
|
acculturation
|
akulturasi
|
5.
|
Cc di muka e dan i menjadi ks
|
accent
|
aksen
|
6.
|
Cch dan ch di muka a, o dan konsonan menjadi k
|
saccharin
|
sakarin
|
7.
|
Ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
|
machine
|
mesin
|
8.
|
Ch yang lafalnya c tetap c
|
check
|
cek
|
9.
|
E tetap e
|
effect
|
efek
|
10.
|
Ea tetap ea
|
idealist
|
idealis
|
11.
|
Eo tetap eo
|
geometry
|
geometri
|
12.
|
F tetap f
|
fossil
|
fosil
|
13.
|
I pada awal suku kata di muka vokal tetap i
|
ion
|
ion
|
14.
|
Ie (Belanda) jika lafalnya i menjadi i
|
riem
|
rim
|
15.
|
Ie jika lafalnya bukan i tetap ie
|
patient
|
pasien
|
16.
|
Ng tetap ng
|
congres
|
kongres
|
17.
|
Oo menjadi u
|
cartoon
|
kartun
|
18.
|
Ou jika lafalnya u menjadi u
|
gouvernur
|
gubernur
|
19.
|
Ph menjadi f
|
alomorph
|
alomorf
|
20.
|
Q menjadi k
|
aquarium
|
akuarium
|
21.
|
Rh menjadi r
|
rhetoric
|
retorika
|
22.
|
Sc di muka a, o, u dan konsonan menjadi sk
|
scriptie
|
skripsi
|
23.
|
Sc di muka e, i dan y menjadi s
|
scenografi
|
senografi
|
24.
|
Sch di muka vokal menjadi sk
|
schema
|
skema
|
25.
|
T di muka i menjadi s jika lafalnya s
|
ratio
|
rasio
|
26.
|
Th menjadi t
|
methode
|
metode
|
27.
|
Uu menjadi u
|
prematuur
|
prematur
|
28.
|
V tetap v
|
vitamin
|
vitamin
|
29.
|
X pada awal kata tetap x
|
xenon
|
xenon
|
30.
|
X pada posisi lain menjadi ks
|
taxsi
|
taksi
|
31.
|
Xc di muka e dan i menjadi ks
|
exception
|
eksepsi
|
32.
|
Xc di muka a, o, u dan konsonan menjadi ksk
|
exclusive
|
ekslusif
|
33.
|
Y tetap y jika lafalnya y
|
yen
|
yen
|
34.
|
Y menjadi i jika lafalnya i
|
psychology
|
psikologi
|
35.
|
Z menjadi z
|
zodiac
|
zodiak
|
4.) Huruf pada akhir kata harus disesuaikan sebagai berikut (Chaer, 2008:244-246):
No
|
Huruf Asing Pada Akhir Kata
|
Kata Asing
|
Penyerapan
|
1.
|
-age menjadi -ase
|
percentage
|
persentase
|
2.
|
-aal, -eel menjadi -al
|
normaal
|
normal
|
3.
|
-ant menjadi -an
|
accountant
|
akuntan
|
4.
|
-archy, -archie menjadi -arki
|
anarchy
|
anarki
|
5.
|
-ary, -air menjadi -er
|
secondary
|
sekunder
|
6.
|
-(a)tion, -(a)tie menjadi -asi, -si
|
action
|
aksi
|
7.
|
-ic, -ics, -que, -iek, ica menjadi -ik, ika
|
phonetics
|
fonetik
|
8.
|
-ic, -isch menjadi -ik
|
electronic
|
elektronik
|
9.
|
-ical, -isch menjadi -is
|
praktical
|
praktis
|
10.
|
-ism, -isme menjadi -isme
|
modernism
|
modernisme
|
11.
|
-ist menjadi -is
|
egoist
|
egois
|
12.
|
-ive, -ief menjadi -if
|
descriptive
|
deskriptif
|
13.
|
-logue menjadi -log
|
dialogue
|
dialog
|
14.
|
-logy, -logic menjadi -logi
|
technology
|
teknologi
|
15.
|
-oir(e) menjadi -oar
|
trottoir
|
trotoar
|
16.
|
-or, -eur menjadi -ur
|
director
|
direktur
|
17.
|
-or tetap -or
|
corrector
|
korektor
|
18.
|
-ure, -uur menjadi -ur
|
structure
|
struktur
|